DISEMINASI HASIL PENELITIAN GENDER

Pusat Studi Gender (PSG) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) berkolabirasi dengan Project Implementation Unit (PIU) Advanced Knowledge and Skills for Sustainable Growth Project (AKSI) Universitas Jambi (UNJA) melakukan kegiatan diseminasasi penelitian Gender yang bertajuk “University Labour Market: Experiences of Female Graduate in Agriculture Industries in Jambi, Indonesia”. Kegiatan dilaksanakan pada 01 Desember 2020 bertempat di Aston Hotel Jambi.

Diseminasi ini menghadirkan Dr. Ir. Anna Fatchiya, M.Si  (Pusat Kajian Gender dan Anak IPB) dan Drg. Irawati Sukandar, M.Kes (Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Jambi). Turut hadir dalam kegiatan ini adalah Dr. Ade Oktavia (Ketua LPPM Universitas Jambi), Drs. Adrefiza, PhD (Ketua LPPPM Universitas Jambi), Prof. Zulkarnain (Manajer PIU AKSI), Ir. Yusrizal, PhD (Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan; Sekretaris PIU AKSI),  Prof. Dr. Ir. Suandi  (Dekan Fakultas Pertanian), Prof. Dr. Anis Tatik Maryani, M.P (Direktur Pascasarjana Universitas Jambi),  Dr. Sri Wachyunni (Koordinator Soft Program ADB AKSI),  tim Peneliti Gender dan dosen yang terkait.

Kegiatan ini di buka oleh Wakil Rektor bidang Akademik, Dr. Kamid, M.Si yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan ini dan berharap hasil penelitian dapat dimanfaatkan dalam mendukung dan sinergis dengan kegiatan-kegiatan lain di Universitas Jambi. Selanjutnya Ketua Tim Peneliti, Delita Sartika, PhD memaparkan bahwa penelitian Gender ini dilaksakan mulai bulan Juli 2020 dengan menggunakan metoda kualitatif dengan mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi kondidsi ketimpangan karir dan ketimpangan keterampilan (skills mismatch) dikalangan lulusan perempuan UNJA terutama bidang bidang pertanian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membangun rekomendasi kebijakan universitas untuk membantu menyiapkan mahasiswa perempuan memghadapi transisi ke dunia kerja dan melakukan navigasi karir secara efektif selama di dunia kerja.

Dari perspektif kebijakan, Ir. Yusrizal, Ph.D, Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan yang sekaligus sebagai Sekretaris PIU AKSI menyampaikan bahwa penelitian ini akan dilanjutkan tahun-tahun mendatang dengan memperdalam masukan-masukan yang ada; data terpilah Gender harus disediakan sehingga terlihat hasil yang terkait penelitian gender; Tracer studi juga harus diperhatikan berbasis gender; kurikulum responsif gender harus diakomodir; perlu dipikirkan kebijakan promosi berbasis Gender; pembangunan Gedung juga harus responsif gender dan pembekalan wisudawan respionsive gender.

Beberapa pandangan umum yang disampaikan oleh para peserta antara lain:

  1. Bersifat holistik sebagai riset kolaboratif yang melibatkan berbagai bidang ilmu, karena memang kajian gender tidak bisa dilakukan oleh ilmu sosial
  2. Dapat memetakan bagaimana hubungan antara kebutuhan dunia kerja dengan ketersediaan sumberdaya pekerja (input tenaga kerja) yaitu lulusan perguruan tinggi.
  3. Lebih menarik lagi pada dunia kerja di sektor pertanian, mengingat bahwa lapangan kerja di sektor pertanian memiliki karakteristik yang unik yang sangat berbeda dengan sektor industri,
    • keragaman sub-sub sektor pertanian (pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan)
    • sistem agribisnis pertanian:
      • sektor  di hulu yaitu penyediaan input produksi, misalnya industri alsintan, pupuk, benih,
      • proses produksi yaitu budidaya pertanian itu sendiri,
      • sektor hilir seperti pemasaran, industri pengolahan hasil pertanian; dan
      • sektor pendukung seperti jasa konslutasi, perbankankan yaitu perkreditan di sektor pertanian.
  1. Hal yang menarik dari penelitian ini adalah dapat menggambarkan fenomena pemuda yang terjun di sektor pertanian. Disinyalir bahwa golongan muda tidak tertarik lagi terjun di sektor pertanian, dan ini juga dialami oleh negara-negara maju bahan dinyatakan sebagai “krisis generasi muda di sektor pertanian”
  2. Salah satu indikasinya di perguruan tinggi adalah menurunnya animo lulusan SMA untuk mendaftar di program studi pertanian, meskipun untuk di beberapa universitas masih cukup tinggi peminatnya;
  3. Penelitian ini juga dapat mengungkap bagaimana lulusan peremouan prodi-prodi pertanian dapat mengakses lapangan kerja di pertanian termasuk motivasi mereka terjun di lapangan kerja pertanian.
  4. Mengapa perempuan menjadi penting untuk dikaji. Bukan berarti lulusan yang laki-laki tidak penting.  Pada dasarnya kajian-kajian gender banyak melihat dari aspek perempuan, dikarenakan masih adanya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan akses dan manfaat sumberdaya atau hasil pembangunan, seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan juga dalam pengambilan keputusan serta terlibat/berpartisipasi dalam pembangunan tersebut.  Dimana dalam kesenjangan ini perempuan berada posisi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki.  Demikian pula munculnya isu-isu gender seperti marjinalisasi, subordinasi, kekerasan, stereotype lebih banyak dialami oleh perempuan.  Oleh karenanya agar sumberdaya dan hasil-hasil pembangunan bisa dinikmati oleh seluruh warga negara Indonesia, perlu strategi agar kesetaraan dan keadilan bisa diterapkan dalam setiap kebijakan, program, dan sasaran pembangunan yang disebut dengan pengarusutamaan gender.  Pada akhirnya pembangunan tidak bias gender, melainkan responsif gender
  5. Kembali kepada perguruan tinggi, bagaimana PUG dapat diimplementasikan di PT? Salah satunya dapa dilihat dari hasil kajian ini. Sehingga jangan sampai misalnya kurikulum yang disusun bias gender, perekrutan mahasiswa merugikan salah satu kelompok baik laki-laki atau perempuan, interaksi antara dosen-mahasiswa bersifat sub ordinasi, tidak ada upaya pencegahan atau penyelesaian kekerasan/pelecehan pada dosen/mahasiswa perempuan dan lainnya
  6. Pentingnya rekomendasi teknis apa yang perlu disarankan kepada institusi sehinggan perguruan tinggi pada semua strata (rektorat sampai Prodi) dan unit-unit lain. Misalnya:
    • Penyusunan kebijakan-kebijakan yang responsif gender dan juga inklusif sosial, misalnya penyusunan keputusan Rektor  tentang PUG dan sampai pada Prosedur Operasional Standar
    • Pendataan yang terpilah gender, penting untuk mengetahui adanya masalah atau kesenjangan gender
    • Implementasi responsif gender pada bidang akademik dan pengajaran,misalnya kurikulum,
    • Pembangunan sarana prasarana yang ramah GESI,
    • Kelembagaan yang responsif gender, misalnya pemberian kesempatan laki-laki dan perempuan dalam menduduki jabatan pimpinan, jika perlu dengan afirmatif. Pembentukan vocal point pada unit-unit
    • Penelitian dan pengabdian masyarakat yang responsif gender
    • Tata kelola perguruan tinggi yang responsif gender

Dirangkum dari tulisan Sri Wachyunni, Koordinator Soft Program

Author: PIC Monev

Koordinator Monitoring dan Evaluasi PIU AKSI ADB UNIVERSITAS JAMBI